Skip to main content

Peran Kebijakan Fiskal dan Moneter dalam Menstimulasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

wegfewfgew
Sapriyadi 

 

KABAR.NEWS - Kebijakan tax amnesty yang dilakukan oleh pemerintah adalah bagian dari kebijakan fiskal expansive dalam menstimulasi pertumbuhan ekonomi. Tax amnesty diharapakan dapat berkontribusi signifikan terhadap peningkatan modal domestik untuk pembangunan sektor riil yang cukup potensial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. 

 

Jika dicermati, besaran pajak penghasilan (PPN) di Indonesia ada dikisaran 10 persen, angka ini terbilang cukup tinggi oleh sebagian besar pengusaha domestik, bukti empiris menunjukkan sebagian besar dari mereka berusaha menghindari pajak dengan  “memarkir” kekayaannya di luar negeri. Kondisi ini berimplikasi pada penurunan akumulasi modal domestik sebagai akibat dari capital outflow dan berpotensi memicu peningkatan pinjaman luar negeri untuk membiayai pembangunan domestik. 

 

Kebijakan tax amnesty diharapkan mampu memberikan multiplier effect dalam perekonomian, yaitu mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman luar negeri dan meningkatkan akumulasi modal domestik. Para ekonom meyakini bahwa akumulasi modal memainkan peran penting dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi melalui investasi. 

 

Secara teoritis, variabel yang memengaruhi investasi selain pendapatan adalah suku bunga. Penurunan suku bunga acuan oleh Bank Sentral dari 4,50 persen pada bulan agustus menjadi 4,25 persen pada bulan september 2017, adalah bagian dari kebijakan moneter dalam menstimulasi pertumbuhan ekonomi. Suku bunga berpengaruh positif terhadap tabungan, jika suku bunga mengalami penurunan maka tabungan ikut mengalami penurunan. 

 

Keynes berpendapat, penurunan tabungan akan berdampak pada peningkatan konsumsi, sehingga in the short run pertumbuhan ekonomi akan meningkat. Sebaliknya, suku bunga memiliki pengaruh negatif terhadap investasi, jika suku bunga mengalami penurunan maka investasi melalui permintaan kredit akan meningkat. Para ekonom mazhab klasik meyakini penurunan suku bunga akan meningkatkan produksi sehingga in the long run pertumbuhan ekonomi meningkat. 

 

Selain itu, penurunan suku bunga juga berdampak pada peningkatan jumlah uang beredar, Irfing Fisher seorang ekonom klasik memformulasikan uang dan harga berkorelasi positif, peningaktan jumlah uang yang beredar dimasyarakat selalu diikuti oleh peningkatan harga (inflasi) dan pada gilirannya akan berdampak pada penurunan daya beli masyarakat. Akan tetapi, Keynes memandang inflasi pada level tertentu akan menstimulasi produksi sehingga pertumbuhan ekonomi akan meningkat, teori ini diperkuat oleh temuan Professor Okun dalam Okun’s Law yang meguji secara empiris keterkaitan antara inflasi dan pengangguran, hasilnya menunjukkan bahwa inflasi pada level tertentu akan menciptakan kesempatan kerja dan mengurangi pengangguran sekitar 2 persen.

 

Selain itu, Bank Indonesia meyakini peningkatan harga (inflasi) masih relatif rendah dibandingkan dengan suku bunga, artinya nilai riil pendapatan yang diperoleh dari suku bunga masih ada sehingga tidak akan berdampak pada penurunan daya beli masyarakat. Jika dicermati lebih lanjut, kebijakan fiskal dan moneter yang ada saat ini nampaknya telah berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi domestik yang mengalami peningkatan dari 4,92 persen pada tahun 2016 menjadi 5,01 persen pada kuartal pertama 2017 dan diproyeksikan akan tumbuh 5,3 persen pada kuartal dua dan tiga.

 

  • Oleh: Sapriyadi