Skip to main content

Pelaku Video Call Mesum Mengaku Depresi karena DO dari UIN Alauddin

Pelaku Video Call Mesum Mahasiswi UIN Alauddin Mengaku Depresi karena Drop Out
Pelaku peneror video call cabul saat diekspose di Mapolrestabes Makassar. (Kabar.news/Reza)

KABAR.NEWS, Makassar - Pelaku teror video call mesum terhadap mahasiswi UIN Alauddin Makassar, mengaku melakukan perbuatan tidak terpuji itu karena merasa depresi lantaran di-drop out dari kampus almamater hijau.

 

Kapolda Sulsel Inspektur Jenderal Polisi Merdisyam mengatakan, dari hasil pemeriksaan, pelaku ini memang sudah kenal dengan para korban. Pelaku merupakan senior korban sebelum diberhentikan dari kampus.

 

"Motifnya untuk melampiaskan hawa nafsu dan kemudian pelaku ini karena pernah mengalami kecelakaan jadi yang bersangkutan tadinya juga berstatus mahasiswa tapi dikeluarkan," ujar Merdisyam saat ekspose di Mapolrestabes Makassar, Kamis (8/10/2020) siang.

 

"Makanya kenal dengan beberapa korban tersebut. Statusnya sudah DO di UIN Alauddin Makassar," sambung Merdisyam.

 

Mantan Kapolda Sulawesi Tenggara itu mengatakan, sejauh ini ada 15 mahasiswi yang mengaku menjadi korban tindak pidana pelecehan seksual yang dilakukan pria 26 tahun tersebut. Dari 15 mahasiswi yang mengaku jadi korban kasus ini, 4 orang telah dimintai keterangan oleh polisi.

 

Merdi menjelaskan, pelaku menjalankan teror video call mesum dengan cara memperlihatkan alat kelaminnya ketika korban mengangkat atau menerima telepon.

 

"Begitu tersambung melakukan kegiatan atau gerakan memegang alat kelamin sambil melakulan video call dengan beberapa korbannya. Korban diduga berjumlah kurang lebih 15 orang. Yang telah diperiksa 4 orang dengan masing-masing inisial Pt, Plt, Mm, dan Iq," ungkap Merdi. 

 

Dari tangan pelaku, polisi mengamankan 1 unit hand phone yang digunakan untuk mengirimkan gambar-gambar tak senonoh kepada korban.

 

"Adapun yang disita dari pelaku, hand phone Samsung A7 dimana di dalamnya ditemukan foto dan video alat kelamin yang dikirimkan ke korban," bebernya.

 

Polisi menjerat pelaku dengan Pasal 45 ayat 1 Juncto Pasal 27 ayat 1 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

 

"Sebagaimana dimaksud dalam pasal 27 ayat 1 dapat dipidana dengan lama 6 tahun dan denda paling banyak 1 miliar," ujar Merdi.

 

Terpisah, pelaku saat ditanyai terkait alasan melakukan hal tak senonoh tersebut, mengaku depresi lantaran hanya bisa tinggal di rumah, selama di DO dari UIN Alauddin Makassar.

 

"Saya melakukan karena depresi. Iya pengangguran, fokus di rumah karena habis kecelakaan. Saya ambil nomor (korban) di Instagram baru hubungi lewat WA," kata pelaku.

 

Sebelumnya, pelaku ditangkap Subdit Cybercrime Ditreskrimsus Polda Sulsel di kampung halamannya di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Selasa (6/10/2020) malam lalu.


Penulis: Reza Rivaldy/A

 

Flower

 

loading...