Skip to main content

OPINI: Tipologi dan Perilaku Pemilih di Tahun Politik

Amril Maryolo

 

Menjelang pilkada dan pemilu serentak yang dimulai tahun 2018-2019 di Indonesia memunculkan kontestasi yang begitu apik bagi setiap aktor politik di daerah hingga pusat. Berbagai cara yang dilakukan para kontestan politik untuk menarik simpati para konstituennya agar memilih mereka. Komunikasi persuasif dengan memaparkan visi-misi dan program unggulan menjadi strategi masing-masing pasangan calon untuk memengaruhi pemilih.

 

Para kontestan politik tentunya memiliki banyak modal untuk menarik simpati pemilih. Modal yang di maksudkan ialah modal sosial dan modal kapital, modal sosial berarti kontestan harus memperkuat relasi massa dan modal kapital berarti kepemilikan terhadap materi untuk membiayai beban kampanye bukan (politik uang/money politic). Sinergitas kedua modal tersebut menjadi wajib bagi kandidat untuk memenangkan pertarungan di tahun politik, karena itulah realitasnya.

 

Tipologi Pemilih

 

Pemilih adalah penentu, pada kenyataannya pemilih merupakan dimensi yang sangat kompleks. Pembagian tipologi pemilih menentukan cara kontestan politik dalam mengembangkan hubungan dengan masing-masing konfigurasi yang muncul. Firmanzah dalam Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas (2012:113) membagi dua orientasi pokok untuk mengidentifikasi calon pemilih, yakni policy problem solving (orientasi kebijakan) dan orientasi ideologi.

 

Pemilih yang menilai dari perspektif policy problem solving melihat sejauh mana para kontestan mampu menawarkan program kerja atas solusi atas permasalahan yang terjadi. Pemilih lebih mengedepankan kejelasan rencana kebijakan para kontestan ketika terpilih nanti.

 

Sementara, pemilih yang melihat dari perspektif ideologi akan lebih menekankan aspek-aspek subjektifitas yang mendekatkan pemilih dengan yang akan dipilih, seperti kedekatan budaya, agama, emosi, dan lain-lain. Semakin dekat kesamaan suatu kontestan/partai politik kepada kontestituennya cenderung akan memberikan suaranya ke kontestan/partai politik tersebut.

 

Dari orientasi pemilih menghasilkan empat tipologi pemilih yang sering dijumpai di tahun politik, yakni pemilih rasional, pemilih kritis, pemilih tradisional, dan pemilih skeptis. Berikut deksripsi tipologi pemilih yang dimaksud;

 

- Pemilih Rasional(rational voters), pemilih jenis ini memiliki ciri khas yang tidak begitu mementingkan ideologi suatu partai/kontestan. Karakter pemilih lebih melihat figur secara personal, rekam jejak, program, sampai program yang ditawarkan relevan/tidak.

 

- Pemilih Kritis (critical voters), kontestan politik tak terlepas dari usungan lembaga/partai politik pengusungnya. Pemilih kritis akan melihat citra partai politik dan figur yang mengusungnya. Namun pada dasarnya tipe ini merupakan gabungan antara kedua orientasi pemilih (dasar kebijakan dan dasar ideologi).

 

- Pemilih Skeptis (skeptical voters), pemilih yang tidak memiliki orientasi ideologi terhadap parpol/kontestan. Pemilih tipe ini apatis terhadap program kerja dan kinerja parpol/kontestan. Sikap pemilih ini lebih ragu dan kurang percaya terhadap parpol/kontestan politik dalam mengubah keadaan menjadi lebih baik.

 

- Pemilih Tradisional (traditional voters), pemilih ini sangat mengutamakan kedekatan sosial-budaya, paham, dan agama sebagai ukuran untuk memilih. Pemilih jenis ini adalah pemilih yang memiliki loyalitas yang bisa dimobilisasi selama kampanye. Masyarakat lebih menekankan aspek perasaan daripada pertimbangan logis.

 

Sikap Pemilih: Menaikkan Popularitas Kontestan

 

Akhir-akhir ini perilaku citizen (warga negara) cukup beragam dalam menyikapi pilihannya dalam pemilu mendatang di media sosial maupun dunia nyata. Terdapat perbedaan perilaku pemilih saat pra pemilu, pemilu, dan pasca pemilu.Perbedaan itu sangat mencolok di media virtual (media social dan Televisi).

 

Saat prapemilu hingga mendekatipelaksanaanpemilu para simpatisan kontestan mulai memviralkan kandidat ataupun parpolnya di media untuk meyakinkan citizen dan mengangkat popularitas kontestan di ruang publik.

 

Sikap pemilih tidak selamanya memviralkan yang disukainya namun terdapat juga karakter pemilih yang memviralkan kontestan yang tidak ia sukai. Hal tersebut dilakukan untuk menurunkan citra kandidat di mata pemilih lainnya. Akhir-akhir ini sering kita jumpai peran hastag di media sosial antar pemilih yang berbeda pilihan.

 

Terdapat persaingan antar pemilih untuk menaikkan popularitas calonnya serta di sisi lain menurunkan citra kontestan lain. Popularitas lebih diperhatikan dibandingkan kemampuan intelektual calon yang akan dipilihnya. Oleh sebabnya penyampaian pesan politik lebih dominan penting dibandingkan subtansi dari politik itu sendiri (Mustadin, 2018).

 

Kita lebih melihatnya terjadi di media, karena media merupakan bagian yang sudah terintegrasi dengan kehidupan politik. Kemampuan media menjangkau pemirsanya secara cepat dan luas membuatnya selalu diutamakan oleh mereka yang ingin meningkat popularitasnya.

 

Para kandidat mesti memperhatikan style hingga intonasi kalimat retoris mereka ketika tampil di media sehingga memperkuat citra dirinya di mata pemilih. Citra kandidat dibangun di hadapan publik sebagai sosok yang cerdas, religius, berwibawa, dan lainnya. Pembangunan citra diri kandidat agar nilai tawar di masyarakat pemilih meningkat. Hal demikian bisa mempengaruhi polling dan popularitas kontestan politik baik di media maupun realitas sosial.

 

Harapan Publik dan Sikap Ideal Pemilih Cerdas

 

Meskipun sikap pemilih berbeda-beda di tahun politik,  namun harapan mereka pada umumnya hamper sama. Publik menginginkan pesta demokrasi berjalan jujur, adil, berkualitas, serta menghasilkan pemimpin yang amanah dan peka terhadap aspirasi konstituennya.

 

Kualitas demokrasi ditentukan oleh penyelenggara, pemilih, dan peserta (kontestan politik). Kita tentu berharap penyakit klasik di tahun politik itu pulih dan kembali pada substansinya yakni, pulih dari money politic (Politik uang), Black Campaign (kampanye hitam), dan anti politik identitas.

 

Jika penyelenggara, pemilih, dan peserta bersinergi membangun integritas itu maka pemilu bukan menjadi tempat arena pertempuran kepentingan kelompok, akan tetapi kepentingan maslahat masyarakat Indonesia.

 

Penulis: Amril Maryolo. AR, S.HI., M.A
(Alumni Studi Kebijakan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)