Skip to main content

Mengulik Sejarah Coto Makassar: Dari asal Nama Hingga 40 Jenis Rempah yang Digunakan

KABAR.NEWS/Degina


 

KABAR.NEWS, Makassar - Coto Makassar telah menjadi primadona kuliner Indonesia, bukan hanya dari daerah asalnya, bahkan seluruh penjuru kota sudah mengenal kuliner yang satu ini, tidak heran Garuda Indonesia menjadikan kuliner kebanggaan Makassar tersebut menjadi menu sajian utama di maskapai penerbangan mereka.

Coto Makassar atau biasa disebut coto Mangkasara' merupakan irisan daging dan jeroan sapi dengan kuah yang diolah dengan empat puluh jenis rempah tradisional.

Hidangan coto biasa ditambah dengan perasan jeruk nipis untuk menambah kesegaran kuah coto serta sambel tauco dan dihidangkan dengan ketupat atau buras.

Saat ini, kekhasan hidangan coto bisa dinikmati diseluruh penjuru Makassar. Bukan hanya di warung pinggir jalan, bahkan tempat makan sekelas hotelpun sudah menyediakan menu yang menjadi kebanggaan kota Makassar tersebut. 

Namun bagaimana sebenarnya sejarah coto Makassar sampai dapat terkenal hingga saat ini? Berikut ulasan yang berhasil dihimpun redaksi KABAR.NEWS.

Kenapa disebut Coto Makassar? 

Menurut budayawan yang juga berprofesi sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Prof Nurhayati, mengatakan nama coto sendiri tidak memiliki makna apapun, penyebutan kata coto yang hingga kini diyakini sebagai salah satu jenis kuliner asal Makassar tersebut muncul secara abriter atau dalam penjelasannya merupakan kata yang disebut secara spontan dan telah menjadi kata yang diyakini maknanya secara turun temurun.

"Jadi kata coto itu muncul secara abriter atau spontan, sehingga sudah menjadi nama yang melekat dan dikenal secara turun temurun," jelas Prof Nurhayati belum lama ini.

Siapa Penjual Coto Pertama di Makassar? 

Untuk menjawab siapa penjual coto pertama di Makassar, KABAR.NEWS mencoba menemui salah seorang pemilik warung coto yang terkenal di Makassar, yakni coto Gagak. 

H.Jamaluddin dg Nassa yang merupakan generasi ketiga dari warung coto gagak menceritakan awal berdirinya coto gagak yakni pada tahun 70-an. Waktu itu pendiri coto gagak hanya berjualan menggunakan bakul dengan cara berkeliling, nanti pada tahun 80-an barulah membuka warung kecil di pinggir jalan Gagak.

"Dulu itu orang tua kita berkelilingji pake bakul, kasih kenal coto gagak, nanti awal 80-an baru bikin tempat, yaaa hanya satu bangku panjang sama meja kecil. Itu hari sempit sekali," kenangnya.

Apa Saja Rempah Ampah Patang Pulo itu?

Kekhasan coto Makassar tidak terlepas dari rempah yang digunakan hingga cara memasak yang masih tradisional. Untuk rempah sendiri, coto menggunakan empat puluh jenis rempah atau bagi orang Makassar menyebut dengan istilah Ampah Patang Pulo.

Keempat puluh jenis rempah ini meliputi:

  • - kemiri,
  • - cengkeh,
  • - pala,
  • - foeli,
  • - sere,
  • - lengkuas,
  • - merica,
  • - bawang merah,
  • - bawang putih,
  • - jintan,
  • - ketumbar merah,
  • - ketumbar putih,
  • - jahe,
  • - laos,
  • - daun jeruk purut,
  • - daun salam,
  • - daun kunyit,
  • - daun bawang,
  • - daun seldri,
  • - daun prei,
  • - lombok merah,
  • - lombok hijau,
  • - gula talla,
  • - asam,
  • - kayu manis,
  • - garam,
  • - papaya muda untuk melembutkan daging,
  • - dan kapur untuk membersihkan jeroan.

Mengenai cara memasak, Hj.Jamaluddin dg Nassa juga menceritakan ciri khas mengolah coto miliknya dengan menggunakan belanga (panci dari tanah) yang dimasak menggunakan kayu bakar. Dari situlah bau khas coto keluar, ditambah dengan racikan bumbu tradisional menambah rasa khas coto tersebut.

  • Degina Adenessa