Skip to main content

Melawan Korupsi

IST
Oleh Asmin Syarif Jr. (IST)

 

KABAR.NEWS - Fenomena sosial politik dewasa ini,  diwarnai berbagai persoalan yang sangat ironis. Mulai dari perilaku elit politik, pejabat pemerintahan-negara yang terjebak dalam lumpur korupsi, kolusi & nepotisme, hingga sampai pada kejatuhan diri ke dalam lubang ekstasi narkoba yang cukup memesona untuk dikonsumsi oleh berbagai stratifikasi sosial. Dari Struktur tertinggi negara, sampai pada level low class; aktor politk,pejabat pemerintahan, Pemuda, pelajar, aktor film & pesinetron, maupun Masyarakat awam, hampir tidak ada yang lolos.

Media Sosial begitu intensif menyuguhkan menu penyakit sosial tersebut. Bahkan mungkin menjadi menu utama yang disajikan oleh stasiun televisi.

Tentu saja penyakit tersebut di atas, merupakan persoalan yang harus direspon oleh seluruh kalangan agar dapat diperangi atau dimusnahkan. Kali kesempatan ini, penulis secara singkat akan fokus mengomentari persoalan korupsi yang spertinya telah menjadi 'selimut tetangga' yang hangat & begitu menggoda untuk dikonsumsi. Hemat penulis, melawan korupsi dapat dilakukan beberapa hal. 

Pertama, memandang korupsi sebagai musuh. Dengan demikian, secara psikologis kita akan menghindari perbuatan itu seperti kita menghindari musuh yang nyata, & yang dpat membahayakan kelangsungan hidup. Kedua, membangun budaya jujur di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah & lingkungan sosial lainnya. Pada generasi penerus, hal ini dpt dilakukan sejak dini agar kepribadian mereka terbentuk & inheren dengan sikap kejujuran dlm berperilaku. 

Ketiga, melakukan transformasi sosial dengan membangun kesadaran kritis masyarakat akan bahaya korupsi, bisa dengan pelatihan,dialog, sekolah-sekolah alternatif dsb. Keempat, tentu saja dengan menegakkan hukuman yang berat kepada para koruptor. Di Indonesia, realitas penegakan hukum bagi para pelaku korupsi msh sangat disayangkan, bukannya mendapat hukuman yang berat justru kerap kali mendapatkan pemotongan masa kurungan;aistem remisi.

Belajar ke Negeri Cina 

Mengenai pemberantasan tindak pidana korupsi, bangsa Indonesia rupaya perlu belajar nun jauh ke Negeri Cina. Adalah seorang perdana meteri Zhu Rongji 1998, di awal kepemimpinannya memerintahkan kepada ajudannya untuk menyediakan 100 peti mati para koruptor. 99 disediakan untuk siapa saja yang berani melakukan korupsi & 1 untuk dirinya jika sampai melakukan perbuatan yang sangat menyengsarakan rakyat tersebut. Terhitung sejak 2007, lebih dari 4800-an pejabat cina menjadi terpidana mati karena melakukan korupsi.

Indonesia yang dikepung dengan koruptor, nampaknya perlu mempertimbangkan budaya hukum Cina yang sangat tegas tersebut. Hal itu sebagai sebuah Shock therapy bagi elit bangsa ini & kepada siapa saja yang berani mencoba-coba melakukan perbuatan yang membahayakan, bahkan membunuh hidup hajat orang banyak secara perlahan.

  • (*)