Skip to main content

AS Mantap Keluar dari UNESCO, Ini Alasannya

ASSS
Ilustrasi (INT)

KABAR.NEWS – Di bawah kepemimpinan Presiden Trump Amerika Serikat memutuskan langkah mengejutkan. Terbaru, negeri Paman Sam secara resmi menyatakan keluar dari United Nations Cultural Organization (UNESCO), setelah bertahun-tahun menarik diri karena menilai organisasi itu anti Israel.

 

"Keputusan ini tidak diambil dengan mudah, ini merefleksikan perhatian AS atas tunggakan di UNESCO, kebutuhan reformasi fundamental dalam organisasi, dan kelanjutan bias anti-Israel di UNESCO," tulis Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Reuters pada Kamis (12/10/2017).

 

Meski demikian, AS disebut tetap ingin meneruskan hubungan dengan UNESCO untuk memberikan perspektif dan pengetahuan Amerika, namun sebagai pengamat non-anggota.

 

Sesuai aturan UNESCO, keluarnya AS dari organisasi itu efektif pada Desember 2018. Itu berarti sebelumnya, AS masih merupakan anggota tetap.

 

Direktur Jenderal UNESCO, Irina Bokova mengaku kecewa terhadap keputusan AS. "Di masa di mana konflik-konflik memecah belah masyarakat di seluruh penjuru dunia, sangat disayangkan AS keluar dari agensi PBB yang mempromosikan edukasi untuk kedamaian dan melindungi kebudayaan di bawah serangan," ujar Bokova.

 

Ia juga mengungkapkan bahwa keputusan tersebut membuat keluarga PBB kehilangan. Begitu pula bagi multilateralisme. 

 

"Absennya AS atau negara besar lain yang punya kekuatan adalah kehilangan bagi kami. Ini bukan sekadar urusan uang, namun idealisme promosi yang vital bagi negara-negara seperti AS, misalnya edukasi dan budaya," kata diplomat tersebut.

 

UNESCO sendiri yang selama ini dikenal dengan program situs warisan dunia, adalah agensi pengembangan global Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dengan misi-misi budaya, termasuk mempromosikan edukasi seksual, literasi, air bersih dan kesetaraan untuk wanita.

 

Sebelumnya, UNESCO sendiri telah menetapkan kota kuno Hebron di West Bank yang dikuasai Israel, sebagai Situs Warisan Dunia Palestina pada bulan Juli 2017 lalu.