Skip to main content

"Mannasu Leges", Tradisi Pertengahan Ramadan di Bontomangape Bulukumba

"Mannasu Leges", Tradisi Pertengahan Ramadan di Bontomangape Bulukumba
Leges yang berada dalam wadah dan siap dimasak. (KABAR.NEWS/Afri)

KABAR.NEWS, Bulukumba - Mannasu atau memasak Leges merupakan tradisi warga kampung Bontomangape, Kelurahan Kalumeme, Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.


Leges adalah makanan tradisional yang berbahan dasar beras ketan hitam dan dibungkus daun pisang menggunakan tali atau alat pengikat lainnya.


Mannasu leges merupakan tradisi warga kampung Bontomangape bertepatan dengan malam Qunnut atau biasa disebut pertengahan malam bulan suci Ramadan yang tepat pada malam ke-16.


Tradisi ini memang persis saat umat muslim akan merayakan Idul Fitri. Para ibu-ibu sudah mulai sibuk dengan proses pembuatan legese yang akan disajikan, mulai dari rempa-rempa, beras hingga daun pisang.


Pertengahan bulan suci Ramadan, warga Bontomangape Bulukumba ini bakal menyajikan leges. Leges ini bakal disantap setelah berbuka puasa maupun setelah Salat Tarawih.


a

Fenomena ini merupakan tradisi khas warga Bontomangape sejak turun temurun, yang dilakukan nenek moyang mereka dan budaya itupun masih terus dipelihara oleh masyarakat daerah tersebut.


"Leges akan disantap setelah berbuka puasa, tradisi seperti ini juga hampir sama dengan daerah Gorontalo, tetapi di sana menyajikan pisang dan kajang untuk disantap bersama," kata Khaerul Umam salah satu tokoh masyarakat saat berbincang tentang Leges kepada KABAR.NEWS, Sabtu (9/5/2020).


Dijelaskan Khaerul, jika tradisi seperti ini biasanya mendadak ramai. Semua penduduk di kampung Bontomangape yang memiliki keluarga dipastikan akan datang atau berkumpul.


"Keluarga dari luar akan datang kesini untuk makan bersama, bahkan dulu keluarga yang datang lebih ramai ketimbang pada saat perayaan Idul Fitri," sebutnya.


Dengan demikian maka hubungan silaturahmi antara sesama masyarakat tetap berjalan baik dan damai. Tentunya juga ajang tersebut akan terjalin ukhuwah islamiah yang baik.


Namun, suasana itu nampaknya berbeda, sebab sejumlah warga harus mematuhi imbauan pemerintah agar tidak melakukan mudik dan berkumpul di tengah pandemi Covid-19.


Sejarah Bontomangape: Perebutan dua Kecamatan di Bulukumba


Bontomangape dulunya menjadi lokasi perebutan pemerintahan dua kecamatan, yakni Kecamatan Gantarang dan Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.


Secara geografis, posisi Bontomangape berada ditengah-tengah Kecamatan Gantarang, yang disebut oleh orang-orang letak berada yang dikelilingi oleh batas Kecamatan Gantarang.


Masyarakat juga mengakui jika Bontomangape masuk pada wilayah Kelurahan Kalumeme, Kecamatan Ujung Bulu.


Konon katanya, Bontomangape diklaim merupakan wilayah Desa Paenre Lompoe. Dimana Bontomangape sempat diiming-imingkan sebuah program penerangan (Listrik). Akan tetapi orang pendahulu bersikukuh menolak progaram tersebut.


Hingga akhirnya, Bontomangape tercatat di Kelurahan Terang-Terang sebelum masuk pada wilayah Kelurahan Kalumeme, Kecamatan Ujung Bulu.


"Jadi sebelum pindah ke Kelurahan Kalumeme, Bontomangape juga pernah ada di Terang-Terang. Jadi orang-orang tua dulu lebih memilih bergelap-gelapan dengan pelita (sulo) dari pada pakai listrik asal masih setia di Kecamatan Ujung Bulu," tutup Khaerul Umam.


Penulis: Afri/A

 

Flower

 

loading...