Skip to main content

Korban Buta Permanen, Pengacara Terdakwa Bilang Sudah Resiko Medis

Hanskd
Suasana sidang kasus malpraktek dengan tersangka dr Elizabeth. (Kabar.News/Frandi)

KABAR.NEWS, Makassar - Pakar hukum kesehatan Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Sabir hadir sebagai saksi ahli dalam sidang kasus dugaan malpraktek klinik kecantikan menjelaskan megenai resiko tinggi suntik filler.

 

"Mengenai suntik filler ini memang beresiko cukup tinggi, makanya selain harus berhati-hati juga harus meminta persetujuan dari pasien," ungkap Sabir dihadapan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Makassar, Senin (10/2/2020) kemarin.

 

Sebagaimana dalam kasus tersebut, suntik filler terdakwa dr Elizabeth terhadap korban inisial ADF menyebabkan buta permanen. ADF datang ke klinik kecantikan (Bele Beauty Care) milik terdakwa (Elizabeth) dengan harapan bisa lebih cantik setelah melalui beberapa tindakan medis seperti melakukan tirus pipi hingga menyuntikkan cairan filler yang dipercaya bisa membuat wajah lebih mempesona.

 

Namun sayang, upaya tersebut justru merupakan malapetaka bagi ADF, pasalnya diduga terjadi kesalahan medis saat proses penyuntikan filler tersebut, korban juga mengaku tidak mengetahui tindak medis yang dilakukan terdakwa. Saat kejadian ADF mengaku hanya menuruti apa yang dianjurkan oleh Elizabeth dengan iming-iming bakal berbuah manis.

 

Peristiwa ini berbuntut ke ranah hukum lantaran kedua pihak (korban dan terdakwa) tidak menemui kesepakatan damai. Korban merasa, tindakan medis dr Elizabeth menyalahi prosedur, sementara pihak Elizabeth tetap ngotot bahwa itu sudah sesuai aturan medis kedokteran.


Baca juga: Pasiennya Buta, Dokter Kecantikan di Makassar Terancam Denda Ratusan Juta 


Metsie T Kabdou, selaku kuasa hukum terdakwa dalam menanggapi suntikan filler kliennya dianggap sudah sesuai prosedur. Meski terjadi kesalahan yang membuat korban cacat permanen, Metsie menganggap itu hanyalah resiko medis.

 

"Jadi untuk syarat persetujuan dari pasien (korban) dalam melakukan tindakan medis (penyuntikan filler) itu bisa secara lisan dan tertulis, ini kita megacu pada undang-undang kedokteran dan permenkes, artinya persetujuan itu tidak selamanya secara tertulis," ujarnya kepada Kabar.News.

 

Saat ditanya mengenai dampak fatal yang dialami korban akibat dugaan malpraktek tersebut, Metsie berpendapat bahwa ini sama sekali bukan termasuk dalam tindakan yagg beresiko tinggi.

 

"Ini namanya resiko medis, bukan termasuk dalam resiko tinggi. Jadi apa yang disangkakan itu sebebarnya tidak memenuhi unsur-unsur yah," tutupnya.

 

Sekedar diketahui, kejadian ini membuat ADF mengalami trauma, ia bahkan tidak mengikuti sidang lantaran hingga sekarang peristiwa naas tersebut masih teringat tajam dalam benaknya, ia hanya diwakili oleh kuasa hukumnya dengan harapan agar terdakwa mendapat hukuman setimpal.


Penulis: Andi Frandi/B

 

loading...