Skip to main content

Ke (CEMAS) An Romantisme

Saifuddin Al Mughniy
Saifuddin Al Mughniy.

 

KABAR.NEWS - Sedikit tak membawa kita pada ruang "romantisme" sebagaimana kelakar anak muda kekinian. Dikebanyakan remaja kita memandang romantisme tak lebih dari sebuah pertautan hati dari dua sosok yang lagi jatuh cinta, seperti romantisme Romeo and Juliet, Titanic, Ada Apa Dengan Cinta, Romance Shakhspeare. Namun makna "Romantisme" disini akan mengurai tentang nalar pengetahuan.


Yah, nalar pengetahuan akan membawa kita untuk menemukan teks-teks ilmiah guna meretas realitas empiris. Bicara Romantisme tentu sangat sulit melepaskan diri sosok filsuf Immanuel Kant yang lahir Konigsberg Prussia Timur tahun 1724. Kant, banyak menghabiskan waktunya hanya menulis, melihat fakta-fakta sosial. Epistemologi Kant, telah meneropong dua pandangan yang terus bertentangan antara Rasionalisme Descartes dengan empirisme David Hume. 


Pandangan Kant begitu sederhana dalam menarik bagian pikiran kedua sosok filsuf yang dianggapnya guru baginya. Kecemasan Kant terhadap sains pengetahuan kedepan bila jalan berfikir ini terus bertentangan, metaanalitik kant begitu berani menangkap argumentasi keduanya.


Bahwa kaum rasionalis begitu percaya bahwa dasar dari seluruh pengetahuan manusia ada dalam alam pikiran. Sedangkan kaum empiris memandang bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia itu bersumber dari pencerahan indrawi. Kant, tak tergesa-gesa mendarasnya dengan kritis, dengan beranggapan bahwa kedua pandangan tersebut sama-sama benar separoh, dan sama-sama salah separoh, asumsinya adalah baik "indra" maupun "akal" sama-sama memainkan peranan dalam konsepsi kita mengenai dunia. 


Perhelatan berfikir itu terus berkutat pada soal indra dan akal. Menariknya, kaum rasionalis begitu jauh melangkah dengan berbagai pernyataan tentang akal, dan seberapa besar sih akal itu memberi sumbangan pada dunia dan manusia. Belum lagi kaum empiris begitu eforia memberi tekanan terhadap pengalaman indrawi manusia. Mungkin kita bisa memilah bagaimana ide dan konsep itu tanpa pengalaman dan sebaliknya pengalaman tanpa ide dan konsep, apakah akan melahirkan kebenaran apriori ? 


Kebenaran apriori muncul bila fakta, teks dan kontekstual tak beririsan atau senyawa dalam kehidupan manusia. Kebenaran apriori yang dimaksud adalah kebenaran yang meragukan, karena itu jejak manusia dan pengetahuan baik itu rasionalitas maupun empirisme adalah bukan keniscayaan. Tetapi dua sisi itu adalah bagian terpenting pelahiran "Romantisme" dalam pengetahuan, sebab Kant telah mendamaikan dua kutub berfikir yakni rasionalisme Descartes dan empirisme David Hume. 


Itulah sebabnya, bagaimana kecemasan itu muncul bila kedua pandangan tak memberi ruang "perdamaian". Sehingga dalam kehidupan modern yang serba kompleks ini, apakah itu soal politik, ekonomi, hukum dan sosial budaya, setidaknya kedamaian-kedamaian dapat diwujudkan sebagaimana berdamainya kutub-kutub pengetahuan.

  • Oleh : Saifuddin Al Mughniy