Skip to main content

Kapolres Jeneponto Bantah Anggotanya Pukuli Pendemo, HMI: Bohong Itu

Demo Omnibus Law
Suasana aksi unjuk rasa diwarnai keributan antara polisi dan mahasiswa di Kabupaten Jeneponto beberapa hari lalu.(Kabar.News/Akbar Razak)

KABAR.NEWS, JENEPONTO - Empat mahasiswa di Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan diduga mengalami tindak kekerasan dari pihak kepolisian. Kekerasan tersebut terjadi ketika polisi tengah membubar paksa aksi unjuk rasa menolak pengesahan Undang-undang Omnibus Law, di depan kantor DPRD Jeneponto, pekan lalu.

 

Akibat dari kekerasan tersebut, empat mahasiswa terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jeneponto untuk mendapatkan perawatan intensif. Polisi juga sempat mengamankan tiga mahasiswa ke Mapolres Jeneponto.


Terkait hal itu, Kepala Polres Jeneponto, AKBP Yuda Kesit angkat bicara. Dengan tegas, Yuda Kesit membantah adanya pemukulan yang dilakukan anak buahnya.


"Ah tidak ada yang memukul, saat itu kan ricuh, jadi tidak ditau," ujar Yuda Kesit saat dikonfirmasi Kabar.News melalui sambungan telepon, Sabtu (17/10/2020).


Menanggapi pernyataan Kapolres Jeneponto tersebut, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Jeneponto, Amrullah Serang, mengaku terkejut. Ia menilai, AKBP Yuda Kesit berusaha menutupi aksi kekerasan yang dilakukan pihaknya kepada mahasiswa.


 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh #jenepontoinfo (@jeneponto_info) pada

 


Serang menegaskan, berdasarkan bukti-bukti yang dimiliki pihaknya, ada sejumlah anggota polisi diduga melakukan pemukulan terhadap mahasiswa."Apa yang dibantah kapolres itu tidak benar. Bohong itu. Karena ada banyak bukti bahwa memang ada (polisi) yang memukul," tandasnya.


Ia menilai, bahwa pernyataan Kapolres Jepeonto yang menyebut bahwa anggotanya tidak melakukan pemukulan adalah suatu bentuk pembelaan."Pasti beliau (Kapolres) bela anggotanya. Yang pasti bahwa pernyataan tidak ada pemukulan itu tidak benar," tegasnya.


Baca Juga: 


Bahkan, Ia juga menyarankan agar Kapolres Jeneponto dapat melakukan evaluasi kepada oknum polisi yang diduga melakukan pemukulan terhadap para demonstran."(Kapolres) harus mengevaluasi anak buahnya. Bukan malah menutupi kesalahan," pungkasnya.


Sekadar diketahui, keempat mahasiswa yang diduga mengalami tindak kekerasan dari oknum polisi yakni Sarwan, Nabil, Karmila dan Syahrul. Mereka terpaksa harus dirawat di UGD RS Jeneponto lantaran mengalami luka-luka.


Penulis: Akbar Razak/B

 

Flower

 

loading...