Skip to main content

Ilmuwan AS Kembangkan Artificial Intelligence untuk Diagnosis Penyakit Alzheimer 

Ilmuwan AS Kembangkan Artificial Intelligence untuk Diagnosis Penyakit Alzheimer 
Ilustrasi Artificial intelligence. (INT)

KABAR.NEWS - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence kini mengubah persepsi atau pendekatan dalam dunia kedokteran untuk mendiagnosa mau pun mengobati berbagai penyakit. 

Penelitian medis baru-baru ini, dari Universitas California, San Francisco, Amerika Serikat mengungkap kecerdasan buatan bekerja untuk mencegah serangan penyakit otak Alzheimer sebelum pada tahap diagnosis akhir.


Baca juga:

Tim peneliti yang terdiri dari berbagai pakar ini, mengembangkan proyek cara kerja Artificial intelligence untuk menganalisis bagaimana pemindaian otak secara akurat, dapat memprediksi penyakit Alzheimer beberapa tahun sebelum diagnosis akhir.

Dilansir dari Medical News Today, para peneliti menggunakan gambar positron-emission tomography (PET) dari 1. 002 otak manusia untuk melatih algoritma teknologi kecerdasan buatan agar dapat mempelajari PET secara mendalam.

Tim dari penelitian ini menunjukkan bahwa, setelah validasi lebih lanjut, alat ini dapat sangat membantu deteksi dini Alzheimer, memberikan waktu perawatan untuk memperlambat penyakit secara lebih efektif.

Mereka menggunakan 90 persen gambar untuk mengajarkan algoritme cara mengenali fitur penyakit Alzheimer dan 10 persen sisanya untuk memverifikasi kinerjanya.


ilustrasi otak yang terdampak alzheimer
ilustrasi otak yang mengalami penyakt alzheimer. (Sinelab)

Mereka kemudian menguji algoritma pada gambar PET dari otak dari 40 orang lainnya. Dari ini, algoritma secara akurat memprediksi individu mana yang akan menerima diagnosis akhir Alzheimer. Rata-rata, diagnosis datang lebih dari 6 tahun setelah pemindaian.

Dalam sebuah makalah tentang temuan, yang diterbitkan jurnal Radiologi baru-baru ini, tim menjelaskan bagaimana algoritma "mencapai 82 persen spesifisitas pada sensitivitas 100 persen, rata-rata 75,8 bulan sebelum diagnosis akhir."

"Kami sangat senang, dengan kinerja algoritma," kata anggota tim peneliti Universitas California, Dr. Jae Ho Sohn , yang bekerja di departemen radiologi dan pencitraan biomedis universitas. "Itu mampu memprediksi setiap kasus tunggal yang maju ke penyakit Alzheimer," tambahnya.

Penyakit Alzheimer dan pencitraan PET

Asosiasi Alzheimer memperkirakan bahwa sekitar 5,7 juta orang hidup dengan penyakit Alzheimer di Amerika Serikat dan bahwa angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi hampir 14 juta pada tahun 2050.

Diagnosis yang lebih dini dan lebih akurat tidak hanya akan bermanfaat bagi mereka yang terkena dampak, tetapi bisa juga secara kolektif menghemat sekitar $ 7,9 triliun dalam perawatan medis dan biaya terkait dari waktu ke waktu.

Ketika penyakit Alzheimer berkembang, ia mengubah cara sel otak menggunakan glukosa. Perubahan dalam metabolisme glukosa ini muncul dalam jenis pencitraan PET yang melacak pengambilan bentuk radioaktif glukosa yang disebut 18F-fluorodeoxyglucose (FDG).

Dengan memberikan petunjuk tentang apa yang harus dicari, para ilmuwan mampu melatih algoritma pembelajaran mendalam untuk menilai gambar PET FDG untuk tanda-tanda awal Alzheimer.
 



loading...