Skip to main content

Hari ini, Rakyat Iran Akan Pilih Presiden Baru

rtyyrtu
ilustrasi(int)

KABAR.NEWS – Presiden Iran, Hassan Rouhani, pada hari Jumat (10/05/2017) sedang bertarung untuk mempertahankan kursinya untuk periode kedua. Hari ini, rakyat Iran sedang melaksanakan pesta demokrasi untuk memilih presiden, yang diikuti oleh empat kandidat. Diantaranya, Hassan Rouhani, sang petahana dari sayap moderat dan sang penantang utamanya dari kubu ekstremis, Ebrahim Raisi.

 

Rouhani (68) merupakan kubu moderat yang melakukan negosiasi untuk menyelesaikan isu nuklir dengan kekuatan politik dunia pada 2015. Pada pemilu kali ini akan diperebutkan oleh 4 kandidat, Rouhani harus menantang ketiga kandidat agar bisa mempertahankan kembali kekuasaannya.

 

Sebetulnya ada enam orang kandidat yang disetujui oleh dewan konstitusi, insititusi yang berwenang untuk menyeleksi bakal calon presiden, namun ada dua kandidat yang mundur pada awal pekan ini.

 

Dua kandidat lainnya masih tetap bertarung yaitu, Mostafa Hashemitaba, seorang reformis, dan Mostafa Mirsalim, merupakan figur konservatif.

 

Sementara penantang utamanya, yang juga menguat, Ebrahim Raisi (56) berasal dari kelompok garis keras yang merupakan mantan jaksa, dan dianggap punya kedekatan dengan sang pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei.

 

Para kandidat akan memperebutkan 54 juta suara pada pemilihan kali ini, jika tidak ada yang mampu menang dengan 50 persen suara, putaran selanjutnya akan dilaksanakan pada pekan depan.

 

Baca Juga : Pemimpin Tertinggi Ingatkan Potensi Kecurangan Saat Pemilu

 

Menteri dalam negeri menyatakan bahwa terdapat 63.500 tempat pemungutan suara yang digunakan. Proses pemilihan akan ditutup pada pukul 18.00 waktu setempat, tetapi pada pemilihan sebelumnya pemungutan suara sendiri mendapatkan tambahan waktu disebabkan banyaknya pemilih, seperti dilansir dari BBC.

 

Sementara hasil pemilihan ini diprediksi akan diumumkan pada Sabtu esok.

 

Pada hari terakhir kampanye pada Rabu, Ayatollah Khamenei menyerukan untuk para pemilih untuk menunjukkan antusiasme mereka pada pemilu, memperlihatkan popularitas rezim kepemimpinan Islam ke dunia internasional.

“Pejabat Amerika, Eropa dan rezim Zionis sedang memperhatikan pemilihan kita untuk melihat tingkat partisipasi, ujarnya.

Selain itu, sang pemimpin teritnggi juga mewanti-wanti bahwa “segala upaya untuk menggerogoti keamanan negara akan berhadapan langsung dengan reaksi pemerintah,” tambahnya.

Hal ini untuk menghindari yang terjadi pada pemilu 2009, dimana protes terbesar setelah Revolusi Islam 1979 akibat ketidakpuasan hasil pemilu.

  • Fardan

Add new comment

Plain text

  • Komentar Dengan Tag HTML Tidak Di Ijinkan.
  • Baris Dan Paragraf Komentar Akan Terbuat Otomatis.
  • URL dan Email Link Terbit Secara Otomatis.