Skip to main content

Harga Rumput Laut di Jeneponto Anjlok, Petani Sebut Akibat Virus Corona

Harga Rumput Laut di Jeneponto Anjlok, Petani Sebut akibat Virus Corona
Para petani di Kampung Ujung Tanah, Kelurahan Tamanroya, Tamalatea, Kabupaten Jeneponto saat mengikat rumput laut, Senin (17/2/2020). (KABAR.NEWS/Akbar Razak)

KABAR.NEWS, Jeneponto - Petani rumput laut di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, mengeluhkan turunnya harga ekspor rumput laut secara drastis atau anjlok. Mereka menyebut hal ini akibat wabah virus corona di Cina.


Saharuddin, petani rumput laut di Kampung Ujung Tanah, Kelurahan Tamanroya, Tamalatea, Jeneponto, mengatakan harga rumput laut pada awal 2020 anjlok mencapai Rp12.000 per kilogram.


Padahal, kata dia, pada tahun 2019 sebelum virus corona mewabah dan menjadi perhatian seluruh dunia, harga rumput laut setiap kilonya naik Rp23.000.


Saharuddin belum bisa memastikan kapan harga rumput laut akan stabil. Namun, dia memprediksi harga bahan dasar agar-agar itu akan terus mengalami penurunan.


"Ini gara - gara virus corona pak, yang mempengaruhi harga jual kami ke pedagang, yang biasa datang ke rumah kami untuk membeli hasil rumput laut saya," ujar Saharuddin saat ditemui KABAR.NEWS, Senin (17/2/2020).


Menurut dia, wabah virus corona juga mempengaruhi aktivitas distributor untuk mengekspor rumput laut keluar Negeri khususnya ke Cina. "Sehingga berdampak kepada para petani rumput laut yang mempengaruhi harga jual," katanya.


Senada dengan Saharuddin, petani rumput laut lainnya bernama Samsuddin juga mengklaim virus corona mempengaruhi harga udang lobster yang biasanya dibeli para pedagang dengan harga Rp1 juta perkilo. Namun, kali ini udang lopster sama sekali tidak dibeli.


"Jadi, saya juga biasa pergi menjaring di laut, sambil menunggu hasil panen rumput laut saya satu bulan ke depan. Saya biasa dapat udang lopster dan itu saya jual kepedagan kalau naik timbangannya sampai satu koli dibeli dengan harga Satu Juta rupiah. Tapi sekarang pedagang tidak mau beli lagi," ucap Samsuddin.


"Termasuk ikan yang biasa di impor, itu tidak ditimbang lagi. Sehingga di jual murah di pasar - pasar terdekat," terangnya.



Olehnya itu, para petani dan nelayan berharap kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jeneponto untuk memfasilitasi bantuan alat rumput laut. Setidaknya bantuan bibit, tali dan jaring.


"Masalahnya pak, harga sangat jatuh, baru kita ini petani rumput laut modalnya juga besar, karena kita harus beli tali dan bibit perton. Modalnya itu sekitar 10 jutaan," ujar Samsuddin.


Mayoritas warga Kampung Ujung Tanah menggantungkan hidup dari hasil laut. Namun, dalam beberapa tahun terakhir mereka tak mendapat bantuan dari pemerintah.


"Kami tidak pernah tersentuh bantuan sama sekali dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jeneponto," pungkas salah seorang warga lainnya.


Penulis: Akbar Razak/B

 

loading...