Skip to main content

Farmasi Unhas Tekankan Obat Dexamethasone Khusus Pasien Corona Bergejala Berat

Farmasi Unhas: Dexamethasone Obat Khusus Pasien Corona Bergejala Berat
Obat Dexamethasone yang diklaim dapat mengobati pasien Virus Corona atau Covid-19. (Getty Images/Matthew Horwood via The Independent)

KABAR.NEWS, Makassar - Penggunaan obat Dexamethasone untuk pasien Virus Corona atau Covid-19 disarankan harus sesuai dengan resep dokter dan dengan pasien bergejala berat.


Ketua Tim Satgas Covid-19 Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Yusnita Rifai, P.hD, Apt, mengatakan, obat dexamethasone sendiri penggunaannya sejauh ini cocok bagi penderita Covid-19 yang sudah gagal nafas.


"Penggunaannya sebenarnya untuk pasien Covid-19 yang keadaan klinis, yang sudah kritis berat, yang sudah gagal nafas," kata Yusnita saat dihubungi di Makassar, Jumat (19/6/2020).


Baca juga: Update Corona 19 Juni: Kasus baru Sulsel Tertinggi di Indonesia


Sebab kata Yusnita, dexamethasone sendiri merupakan obat anti inflamasi atau anti peradangan yang merupakan turunan dari kortikosteroid. Fungsi pada pasien Covid-19 yang bergejala berat yakni meringankan beban pernafasan


"Tapi dia kan membantu meredakan peradangan, kalau memang ada peradangan daerah paru-paru itu dengan bantuan oksigen atau ventilator, kalau  diberi dexamethasone itu langsung berkurang detaknya pasien," lanjutnya.


Sejauh ini, kata Yusnita, hanya Inggris merupakan negara yang mengumumkan penggunaan dexamethasone untuk membantu pasien Covid-19 yang bergejala berat.


Menurut Yusnita, Inggris sendiri telah melakukan recovery trial atau uji coba klinis untuk menerapkan penggunaan dexamethasone tersebut terhadap pasien yang terpapar Corona.


"Itu yang terjadi di Inggris, jadi mereka melakukan yang namanya recovery trial itu maksudnya uji coba secara klinik untuk jumlah pasien sedikit. Tapi lumayan ya di Inggris berapa rumah itu ya. Itu di berita, ada 11.700 pasien,75 RS kalau saya nda salah," paparnya.


Sejauh ini, di Indonesia sendiri kata Yusnita belum dilakukan hal yang sama.


"Rencananya untuk indonesia belum diterapkan sama sekali tapi itu sebenarnya bisa jadi rekomendasi klinis untuk teman-teman dokter paru untuk bekerja merawat pasien Covid-19," terangnya


Yusnita mengkhawatirkan jika produk dexamethasone dipromosikan secara massal, maka akan memicu panic buying atau kepanikan membeli itu bisa terjadi. Akibatnya, bisa membuat barang menjadi langka karena dapat ditemukan di apotek maupun di toko kolontongan.


Baca juga: Sempat "Dirpomosikan" Jokowi, WHO Hentikan Uji Klinis Obat Klorokuin


Kemudahan mendapatkan obat tersebut juga menjadi kekhawatiran bagi Yusnita, sebab jika barang menjadi langka, kebutuhan pasien di rumah sakit bisa tak terpenuhi.


"Padahal kan RS juga membutuhkan itu, terus juga obat itu mudah sekali didapat dimana-mana, tidak hanya di apotik-apotik rs, tapi juga toko obat biasanya dijual tanpa resep dokter, itu yang kami khawatir," tutur Yusnita.


Maka itu, Yusnita mengatakan pihaknya akan membatasi penggunaan dexamethasone. Pembatasan itu dilakukan dengan cara hanya diberlakukan sesuai resep dokter.


"Jadi kita sekarang hanya boleh memberikan itu obat kalau ada resep dokter, jadi tidak dijual bebas misalnya ada yang datang mau diperiksa kita tida berikan, itu kesepakatan teman-teman di apotik dan dokter-dokter karena khawatirnya nanti dipergunakan tidak sesuai dengan kondisi pasien. Karena ini kan kondisi berat baru bisa dipakai," ringkas Yusnita


Penulis: Fitria Nugrah Madani/B

 

Flower

 

loading...