Skip to main content

Bedah Buku Wajah Terlarang: Kisah Kelam Perempuan di Bawah Kuasa Ekstremisme

Wajah terlarang
Bedah Buku Wajah Terlarang terbitan LKiS di Aula Prof Mattulada, Universitas Hasanuddin, Jumat (22/09/2017) siang (KABAR.NEWS/Fardan)

KABAR.NEWS, Makassar - Jaringan Gusdurian Makassar bekerjasama dengan penerbit LKiS menggelar bedah buku "Wajah Terlarang" di Aula Prof Mattulada, Universitas Hasanuddin, Jumat (22/09/2017) siang.

Wajah Terlarang merupakan sebuah memoar yang dikisahkan ulang melalui novel. Kisah dalam buku ini menceritakan kisah kelam seorang perempuan yang hidup di bawah bayang-bayang perang dan ekstremisme.

Supratman SS, MA salah satu pembedah menjelaskan bagaimana kuasa esktremisme bisa mengubah kehidupan masyarakat, khususnya bagi perempuan.
"Di dalam novel dikisahkan pengalaman Lathifah ketika kebahagiaan hidupnya lenyap setelah datangnya Taliban."

Maka dari itu Supratman melanjutkan bahwa "mesti berhati-hati dengan gerakan transnasional yang masuk di Indonesia, khususnya indoktrinasi paham ekstremisme, yang banyak beredar melalui media sosial."

Lanjutnya, dosen Sastra Asia Barat Unhas ini menggarisbawahi pentingnya daya nalar dan logika yang kuat untuk membentengi diri.

Sementara Prof Nurhayati Rahman, menjelaskan betapa tragisnya kisah perempuan di bawah kondisi perang diperparah dengan sistem patrineal. "Sangat menyeramkan bila menerjemahkan konsep Islam secara tekstual" tuturnya.

Dijelaskan dalam buku tersebut bagaimana kondisi Afganistan hanya dihuni oleh tiga kelompok suku. Namun, bertahun-tahun mengalami konflik berkepanjangan dikuasai dari satu tiran ke tiran lain.

Prof Nurhayati mengungkapkan kesannya setelah membaca buku tersebut, bahwa kita bersyukur hidup di Indonesia yang beragam namun bisa menjaga kehidupan yang damai.

Guru besar Fakultas Ilmu Budaya Unhas ini juga menyarankan agar bisa menjaga keberagaman dalam kehidupan berbangsa. "Saya berharap buku ini dibaca banyak orang sebagai pelajaran bahwa hidup seperti ini bisa saja terjadi di mana saja," pungkasnya.

Selain itu, Prof Nurhayati juga menambahkan bagaimana budaya lokal Sulawesi Selatan menginterpretasi ajaran Islam ke dalam kehidupan harian masyarakat. Hal tersebut, tambahnya, sangat berbeda dengan yang terjadi di Timur Tengah, seperti yang terjadi di Afganistan sebagaimana dikisahkan dalam buku Wajah Terlarang.