Skip to main content

Adu Taktik Dalam Pilgub Sulsel

ilham kadirr
Dr. Ilham Kadir, MA (IST)


Hakikatnya taktik dipakai untuk meraih kemenangan dalam perang, atau kalau memang diperkirakan tidak bisa menang, minimal mengurangi jumlah korban. Taktik adalah bahasa lain dari strategi. Kehebatan sebuah taktik sudah terbukti jitu. Buktinya Khalid bin Walid, selama memimpin peperangan dalam sejarah hidupnya, baik sebelum maupun setelah masuk Islam tak pernah sekalipun mengalami kekalahan. 

Tapi itu dulu, sekarang taktik dan atau strategi justru banyak digunakan oleh pelatih sepak bola. Saat ini, permainan sepak bola adalah gabungan antara skill para pemain dan racikan strategi para pelatih. 

Setidaknya ada tiga jenis strategi permainan sepak bola yang masih jadi amalan para pelatih. Walaupun kerap berubah mengikuti kebutuhan dan situasi zaman.

Pertama, tiki-taka.  Secara harfiah, 'tiki-taka' dieja tiqui-taca sebagaimana dikenal dalam bahasa Spanyol.  Gaya tiki-taka adalah permainan sepak bola yang cirinya mengutamakan  umpan-umpan pendek dan pergerakan yang dinamis, memindahkan bola melalui beragam saluran, dan mempertahankan penguasaan bola.

Kedua, Total Football atau dalam bahasa Belanda dikenal dengan  totaalvoetbal, merupakan taktik permainan yang memungkinkan semua pemain bertukar posisi (permutasi posisi) secara konstan sambil menekan pemain lawan yang menguasai bola. Dengan demikian taktik ini mengharuskan tim berisi para pemain yang mempunyai skill menyerang dan bertahan yang sama bagusnya serta memilki fisik prima untuk bisa tampil konstan selama 90 menit.

Ketiga, Kick and Rush. Jika ditilik dari arti kata per kata dalam Bahasa Inggris, Kick berarti menendang dan Rush adalah terburu-buru. Maka dari itu, metode ini bisa diartikan sebagai sebuah sistem yang berusaha mengalirkan bola secepatnya ke jantung pertahanan lawan, sehingga terjadi kemelut dan berujung gol. 

Kick and Rush dimotori permainan para pemain sayap. Dalam teori ini, gol dari sebuah proses tak lebih dari tiga kali umpan. Artinya, proses tidak terlalu diutamakan, melainkan hasil akhir adalah segalanya.

*

Lalu apa hubungannya dengan Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan (Pilgub Sulsel)?

Dalam suasana Tahun Baru Hijriah 1439. Suhu politik di Sulsel makin menegangkan bagi sebagian orang. Wabil-khusus beberapa bakal calon gubernur yang selama ini telah menggelontorkan banyak duit untuk sosialisasi. 

Tegang, sebab ada calon yang digembar-gemborkan sudah punya partai pendukung yang akan dijadikan 'kuda perang' tiba-tiba membelot. Yang lain sudah diberitakan telah melempar handuk, tiba-tiba muncul kembali, semacam rebound. 

Yang pertama adalah Ichsan Yasin Limpo (IYL) dan Agus Arifin Nu'mang (AAN), yang kedua adalah Nurdin Abdullah (NA).

IYL yang selama ini sudah mendapatkan dukungan penuh Partai Amanat Nasional (PAN) untuk diusung jadi calon gubernur dengan enam 'plana', dikabarkan tiba-tiba berubah haluan justru merapat ke NA. Begitu pula dengan Gerindra yang selama menjadi harapan AAN, konon akan berbelok mengangkut NA dalam pertarungan sengit lima tahunan itu.

Nampaknya, ketiga bakal calon gubernur ini masih menggunakan gaya dan taktik tiki-taka. Arah bola sulit diprediksi, semua pemain mendapatkan bola, umpan sana sini, ketiganya punya harapan mencelposkan bola ke dalam gawang, tapi hanya satu yang akan berjaya. Selain itu, AAN, IYL, dan NA terlihat juga kerap merubah taktik, meninggalkan tiki-taka dan mengambil gaya Total Football. Berganti posisi dengan kualitas dan peluang yang sama.

Yang terlihat lebih nyaman dan santai adalah Nurdin Halid. Calon ini hakikatnya sudah menang lima puluh persen. Sebab dalam teori Pilkada, jika seorang calon sudah mendapatkan kendaraan hakikatnya sudah selesai setengah masalah. Tinggal bagaimana meyakinkan para pemilih bahwa dirinya yang terbaik. 

Meyakinkan partai tidak lebih mudah dibandingkan meyakinkan masyarakat luas. Gaya Nurdin Halid dalam Pilgub Sulsel nampaknya merujuk pada taktik Kick and Rush.

 

Penulis : Dr. Ilham Kadir, MA.
(Ketua Bidang Penelitian dan Informasi MIUMI Sulsel)